Britainaja – Meningkatnya aktivitas masyarakat di dunia maya, mulai dari transaksi perbankan hingga belanja daring, turut mendorong maraknya kasus kejahatan siber. Penipuan online kini dapat menimpa siapa saja tanpa memandang latar belakang. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengenali berbagai modus operandi pelaku agar tidak terjebak dalam perangkap mereka.
Kejahatan digital ini memanfaatkan berbagai celah keamanan dan manipulasi psikologis korban. Berikut adalah 10 jenis-jenis penipuan online yang paling umum dan patut Anda waspadai, dirangkum dari berbagai sumber:
1. Phishing
Pelaku phishing seringkali menyamar sebagai perwakilan dari lembaga resmi (seperti bank atau layanan pemerintah) melalui telepon, email, atau pesan teks. Modus ini bertujuan memanipulasi korban agar memberikan data pribadi sensitif (seperti kata sandi, detail kartu kredit, atau nomor identitas) yang kemudian digunakan untuk mengakses akun penting korban. Waspadai tautan mencurigakan dan permintaan data sensitif melalui saluran yang tidak resmi.
2. Pharming Ponsel
Pharming merupakan modus penipuan yang mengarahkan korban ke situs web palsu yang telah disisipi malware. Tindakan ini terjadi ketika korban menekan tautan yang salah, dan entri DNS (Domain Name System) palsu tersimpan dalam cache perangkat. Dengan begitu, pelaku dapat mengakses perangkat korban secara ilegal.
3. Sniffing
Sniffing adalah metode peretasan di mana pelaku mencuri informasi yang ada di perangkat korban, termasuk data yang tersimpan di aplikasi penting, saat korban terhubung ke jaringan internet yang sama. Modus ini sangat rentan terjadi saat menggunakan Wi-Fi publik, terutama jika Anda melakukan transaksi keuangan.
4. Money Mule
Dalam praktik money mule, pelaku meminta korban menerima sejumlah uang di rekening pribadinya, kemudian mentransfer uang tersebut ke pihak lain. Di Indonesia, modus ini seringkali dimodifikasi, di mana pelaku meminta korban membayarkan sejumlah “pajak” atau “biaya administrasi” terlebih dahulu sebelum hadiah atau uang yang dijanjikan dikirim.
5. Penipuan Rekayasa Sosial (Social Engineering)
Modus ini memanfaatkan manipulasi psikologis untuk mendapatkan informasi krusial, seperti kode one-time password (OTP). Pelaku bisa berpura-pura menjadi teman atau anggota keluarga yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan mendesak, seperti pinjaman uang, untuk memancing empati korban. Selalu verifikasi permintaan bantuan melalui saluran komunikasi lain, misalnya menelepon langsung orang yang bersangkutan, sebelum melakukan transfer dana.
6. Penipuan Belanja Daring (E-Commerce Scam)
Penipuan ini umum terjadi di platform belanja online. Pelaku membuat akun toko palsu dengan penawaran harga barang yang tidak masuk akal murahnya. Setelah korban mentransfer uang, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim atau barang yang diterima tidak sesuai. Ciri-cirinya adalah toko online yang tidak tepercaya dan ulasan yang palsu. Selalu cek ulasan dan belanja hanya di situs atau aplikasi terpercaya.
7. Penipuan Investasi Bodong (Investment Scam)
Pelaku menawarkan skema investasi dengan iming-iming keuntungan fantastis dalam waktu singkat. Mereka menggunakan bahasa meyakinkan tentang peluang di saham, properti, atau cryptocurrency. Skema ini sering disebarkan melalui media sosial atau grup chat dan tidak memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
8. Penipuan Lotere dan Hadiah
Modus ini memberitahu korban bahwa mereka telah memenangkan hadiah besar, namun untuk mengklaimnya, korban wajib membayar sejumlah biaya administrasi atau pajak. Ciri utamanya adalah adanya keharusan pembayaran di awal dan tidak adanya bukti keikutsertaan korban dalam undian tersebut.
9. Skimming Digital
Skimming digital melibatkan penggunaan perangkat lunak atau hardware untuk mencuri data kartu kredit atau debit saat korban melakukan transaksi secara online. Perhatikan transaksi mencurigakan di rekening bank Anda. Untuk menghindarinya, jaga kerahasiaan data pribadi dan aktifkan notifikasi transaksi.
10. Penipuan Pekerjaan (Job Scam)
Dalam modus ini, korban di tawari pekerjaan dengan gaji yang sangat tinggi. Namun, sebagai syarat awal, korban diminta membayar sejumlah uang sebagai biaya administrasi, pelatihan, atau jaminan. Ingat, tawaran pekerjaan yang sah tidak akan meminta biaya apa pun dari pelamar. Selalu verifikasi reputasi perusahaan sebelum merespons tawaran kerja.
Memahami jenis-jenis penipuan online ini adalah langkah awal yang krusial untuk melindungi diri Anda dari kerugian finansial maupun pencurian identitas di era digital.















