Britainaja – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan dengan peningkatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan catatan Bloomberg, Senin (10/11/2025), rupiah berada pada posisi Rp16.672 per dolar AS atau menguat sekitar 0,11 persen di bandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang berada di level Rp16.690 per dolar AS.
Penguatan ini memberi sinyal bahwa rupiah memiliki ruang untuk menguat sepanjang pekan, terutama jika didukung sentimen global dan domestik yang kondusif. Analis Pasar Uang, Fikri C. Permana, memperkirakan rupiah memiliki peluang bergerak menuju kisaran Rp16.680 per dolar AS dalam perdagangan hari ini. Menurutnya, perkembangan indeks konsumen di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu di perhatikan.
Fikri menjelaskan bahwa indeks sentimen konsumen di AS menurun sejak November 2024, atau sejak kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden. Penurunan indeks ini tercatat mencapai 29,9 persen. Kondisi tersebut membuka harapan pasar terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter dan penurunan suku bunga The Federal Reserve dalam beberapa waktu mendatang. Jika suku bunga acuan di AS menurun, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi berkurang.
Selain faktor eksternal, kondisi ekonomi domestik turut memberi dorongan positif. Kinerja penjualan kendaraan roda dua pada Oktober 2025 di laporkan meningkat. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan motor pada periode tersebut mencapai 590.362 unit, atau naik 4,08 persen di bandingkan September 2025. Peningkatan aktivitas konsumsi ini menandakan daya beli masyarakat masih terjaga dan menunjukkan dukungan terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, Bank Indonesia memastikan tetap menjalankan langkah stabilisasi agar pergerakan rupiah tetap terjaga. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa BI terus aktif berada di pasar melalui beragam instrumen intervensi. Langkah tersebut meliputi operasi di pasar spot, pasar NDF (non-deliverable forward) luar negeri, hingga DNDF di dalam negeri. Termasuk kemungkinan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga keseimbangan likuiditas dan nilai tukar.
Denny menegaskan bahwa prospek rupiah masih solid jika melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terkendali, dan cadangan devisa yang memadai disebut menjadi fondasi penting. Selain itu, minat investor terhadap pasar SBN domestik juga masih cukup tinggi. “Prospek ekonomi Indonesia ke depan masih sangat besar, terutama dari sisi pertumbuhan,” ujar Denny.
Penguatan rupiah di awal pekan ini mencerminkan interaksi berbagai faktor global dan domestik. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter global, terutama keputusan The Fed dan arah nilai tukar dolar AS. Stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada bagaimana Indonesia menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kepercayaan pasar.
Dengan kondisi saat ini, perhatian investor di arahkan pada data ekonomi global berikutnya yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar. Jika tekanan eksternal mereda dan indikator domestik tetap solid, ruang penguatan rupiah di perkirakan masih terbuka sepanjang kuartal berjalan. (Tim)















