Britainaja – Isu penyadapan nomor telepon Presiden Prabowo Subianto lewat Lawful Interception Management System (LIMS) memicu kekhawatiran publik terkait keamanan komunikasi pribadi.
Sistem LIMS bekerja langsung melalui jaringan operator telekomunikasi. Artinya, pihak penyadap tidak perlu memasang perangkat lunak mata-mata (spyware) di HP target untuk mengambil salinan data percakapan.
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, membagikan tiga langkah praktis untuk meminimalkan risiko penyadapan jaringan ini.
1. Pakai Aplikasi Pesan Berenkripsi Ujung-ke-Ujung (End-to-End Encryption)
Alfons menyarankan masyarakat memanfaatkan aplikasi seperti WhatsApp, Signal, atau fitur Secret Chat di Telegram saat membagikan informasi sensitif. Teknologi enkripsi end-to-end mengunci isi pesan sehingga hanya pengirim dan penerima yang bisa membacanya.
WhatsApp dan Signal otomatis mengaktifkan fitur keamanan ini untuk semua percakapan. Sementara itu, pengguna Telegram wajib mengaktifkan fitur Secret Chat secara manual karena percakapan biasa dan grup Telegram belum mengusung fitur tersebut secara bawaan.
2. Tinggalkan SMS dan Telepon Biasa untuk Rahasia Penting
Hindari pengiriman informasi penting melalui SMS maupun saluran telepon seluler biasa. Sistem intersepsi pada jaringan operator dapat menyadap dan merekam kedua saluran komunikasi konvensional ini dengan sangat mudah.
Sebagai gantinya, beralihlah sepenuhnya ke aplikasi percakapan berbasis internet yang mendukung enkripsi kuat guna melindungi kerahasiaan data Anda.
3. Perbarui Sistem Operasi HP dan Aplikasi Secara Berkala
Pengguna gadget wajib memperbarui sistem operasi (OS) dan aplikasi secara rutin. Pembaruan perangkat lunak menutup celah keamanan (bug) yang sering menjadi pintu masuk spyware jahat.
Meskipun pembaruan software tidak menghentikan penyadapan LIMS di tingkat operator secara langsung, langkah ini sangat efektif mencegah peretasan perangkat dari jarak jauh.
Waspadai Jejak Metadata Anda
Meskipun sudah menerapkan ketiga langkah di atas, pengguna tetap harus mewaspadai bahaya pengumpulan metadata.
Operator seluler tetap bisa melacak waktu koneksi internet, lokasi keberadaan Anda, hingga jenis layanan yang Anda akses. Begitu pula penyedia aplikasi yang masih menyimpan data mengenai rekan bicara, durasi komunikasi, hingga daftar grup yang Anda ikuti.
Kumpulan metadata dalam jangka panjang sanggup menggambarkan pola rutinitas, pergerakan harian, hingga lingkaran pertemanan seseorang secara akurat. Tetaplah bijak dan waspada saat berkomunikasi di dunia digital. (Tim)






