Britainaja – Kematian tetap menjadi misteri terbesar manusia, namun secara biologis, tubuh memiliki mekanisme unik dalam mematikan fungsinya secara bertahap. Banyak yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya di rasakan oleh seseorang ketika berada di detik-detik terakhir hidupnya? Para ahli medis kini mulai mengungkap tabir tersebut, menjelaskan bahwa indra kita tidak berhenti berfungsi secara bersamaan, melainkan mengikuti urutan tertentu yang telah terprogram secara alami.
Indra Pertama yang Mulai Memudar
Berdasarkan pengamatan klinis terhadap pasien dalam fase terminal, indra yang biasanya menunjukkan penurunan fungsi paling awal adalah penglihatan. Dr. James Hallenbeck, seorang pakar perawatan paliatif dari Universitas Stanford, mengungkapkan bahwa manusia cenderung mulai kehilangan ketertarikan pada dunia luar secara visual saat mendekati ajal. Pandangan mata perlahan mulai mengabur, fokus menghilang, dan pasien seringkali lebih banyak memejamkan mata sebagai bentuk penghematan energi tubuh yang kian menipis.
Setelah penglihatan meredup, menyusul kemudian indra perasa dan penciuman yang ikut melemah. Hal ini menjelaskan mengapa pasien dalam kondisi kritis biasanya kehilangan nafsu makan secara total. Lidah tidak lagi mampu menangkap kelezatan makanan, dan hidung tidak lagi peka terhadap aroma di sekitarnya. Tubuh mulai masuk ke fase transisi di mana kebutuhan fisik terhadap asupan nutrisi luar bukan lagi menjadi prioritas utama.
Sentuhan dan Pendengaran: Benteng Pertahanan Terakhir
Fakta yang paling mengharukan dari proses ini adalah indra pendengaran. Berbagai studi medis menunjukkan bahwa pendengaran seringkali menjadi indra terakhir yang berhenti berfungsi sebelum seseorang benar-benar tiada. Meskipun pasien sudah berada dalam kondisi tidak sadar atau koma, otak mereka seringkali masih menunjukkan aktivitas saat mendengar suara anggota keluarga atau musik yang familiar.
Dr. Hallenbeck mengibaratkan proses ini seperti lampu di sebuah gedung yang di padamkan satu per satu secara berurutan. Pendengaran adalah lampu di lobi yang tetap menyala hingga pintu benar-benar terkunci. Fenomena ini memberikan secercah harapan bagi keluarga yang di tinggalkan, bahwa komunikasi verbal berupa bisikan doa atau ucapan perpisahan kemungkinan besar masih mampu di tangkap oleh memori bawah sadar sang pasien.
Mengapa Tubuh Bertahan Lewat Suara?
Secara analisis kedokteran, bertahannya fungsi pendengaran ini berkaitan dengan struktur saraf pendengaran yang lebih sederhana dan tangguh di bandingkan sistem visual yang kompleks. Pendengaran terhubung langsung dengan bagian batang otak yang mengatur fungsi-fungsi dasar kehidupan. Tips bagi keluarga yang sedang mendampingi orang terkasih di saat-saat kritis: teruslah berbicara dengan nada lembut, pegang tangan mereka dengan hangat, dan hindari pembicaraan yang dapat memicu kepanikan di dekat tempat tidur pasien.
Kehadiran fisik dan suara yang tenang bukan sekadar ritual emosional, melainkan kebutuhan biologis terakhir bagi seseorang untuk merasa aman sebelum berpindah ke alam lain. Memahami urutan “padamnya” indra ini membantu kita untuk memberikan penghormatan terakhir yang lebih layak dan penuh kasih sayang bagi mereka yang sedang berjuang di garis akhir kehidupan. (Tim)















