Kasus Darah Tinggi pada Anak Meningkat Drastis: Obesitas Jadi Pemicu Utama

Pavicon Britainaja.com

- Jurnalis

Jumat, 21 November 2025 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Kasus Darah Tinggi pada Anak Meningkat Drastis: Obesitas Jadi Pemicu Utama (Foto: Twinsterphoto/Shutterstock/kumparan)

Ilustrasi. Kasus Darah Tinggi pada Anak Meningkat Drastis: Obesitas Jadi Pemicu Utama (Foto: Twinsterphoto/Shutterstock/kumparan)

Britainaja – Peningkatan kasus tekanan darah tinggi (hipertensi) pada anak-anak telah menjadi perhatian serius di dunia kesehatan global. Data terbaru yang bersumber dari studi internasional menunjukkan lonjakan signifikan dalam dua dekade terakhir. Secara spesifik, prevalensi hipertensi pada anak laki-laki melonjak dari 3,40% menjadi 6,53%, sementara pada anak perempuan meningkat dari 3,02% menjadi 5,82% antara tahun 2000 hingga 2020.

Temuan mengkhawatirkan ini di dapatkan dari meta-analisis terhadap 96 studi yang melibatkan lebih dari 400 ribu anak dan remaja di berbagai negara. Analisis tersebut secara tegas menunjuk satu faktor utama penyebab peningkatan kasus darah tinggi pada anak: obesitas.

Anak dan remaja yang mengalami obesitas tercatat memiliki angka hipertensi yang paling tinggi. Angka ini disusul oleh kelompok yang kelebihan berat badan. Walaupun demikian, anak-anak dengan berat badan normal pun tetap ikut terdampak, menunjukkan bahwa risiko hipertensi meluas ke berbagai kelompok berat badan.

Para peneliti mencatat, “Jika tekanan darah diukur di klinik dan di konfirmasi sedikitnya tiga kali kunjungan, prevalensi globalnya mencapai 4,28%. Sementara itu, tambahan 8,15% anak dan remaja masuk dalam kategori prahipertensi.”

Baca Juga :  Ditreskrimum Polda Jambi Bekuk Pelaku Pencurian Disertai Kekerasan dan Dugaan Asusila

Dalam kelompok obesitas, angka tersebut jauh lebih tinggi. Risiko hipertensi terkonfirmasi meningkat hampir delapan kali lipat, dan risiko pra-hipertensi mencapai hampir 19%, jika di bandingkan dengan anak-anak yang memiliki berat badan normal. Studi ini kembali mempertegas adanya hubungan kuat antara penumpukan lemak tubuh dan peningkatan tekanan darah pada anak.

Penelitian ini merupakan meta-analisis global pertama yang menggabungkan data pengukuran tekanan darah dari lingkungan klinik dan luar klinik (misalnya, di rumah). Studi ini mencakup negara-negara dari seluruh kawasan WHO, mulai dari Afrika, Amerika, Eropa, hingga Asia Tenggara, yang melibatkan negara berpenghasilan tinggi dan rendah-menengah.

Secara umum, prevalensi hipertensi yang di ukur di klinik (berdasarkan 81 studi) adalah 4,28%. Angka ini meningkat seiring bertambahnya usia, mencapai puncaknya pada usia 14 tahun, kemudian menurun. Untuk pendekatan pengukuran gabungan, prevalensinya mencapai 6,67%.

Dr. Rubin Cooper, seorang ahli kardiologi anak dari Cohen Children’s Medical Center, yang tidak terlibat dalam riset ini, menyebut kenaikan prevalensi ini sebagai masalah kesehatan serius. “Angka kasus [darah tinggi pada anak] naik dalam 20 tahun terakhir di berbagai belahan dunia. Ini masalah kesehatan serius dengan dampak ekonomi dan medis yang besar,” kata Cooper.

Baca Juga :  Daun Kelor dan Pengaruhnya pada Pertumbuhan Tinggi Badan

Cooper menambahkan bahwa meski obesitas adalah faktor utama, sulit memastikan penyebab tunggal peningkatan kasus ini, salah satunya kemungkinan karena pengukuran tekanan darah pada anak kini lebih sering di lakukan. Namun, ia juga menyoroti fakta bahwa prevalensi tetap meningkat dua kali lipat bahkan pada anak kurus atau berberat badan normal.

Untuk memitigasi risiko ini, Dr. Cooper memberikan saran penting bagi para orang tua. Pertama, ia menganjurkan pembatasan screen time atau waktu menatap layar. Kedua, perbanyak konsumsi makanan utuh (whole food) daripada makanan kemasan, dan tingkatkan asupan buah serta sayuran.

Meskipun faktor genetik juga dapat berperan, Cooper menekankan bahwa intervensi gaya hidup tetap krusial. “Bukan berarti pola makan dan aktivitas fisik saja bisa menyelamatkan semua orang, tapi [upaya] ini akan membuat sebagian besar anak jauh lebih sehat,” jelasnya. Ia menutup dengan menekankan perlunya edukasi dini tentang makanan sehat dan memastikan bahan pangan yang baik mudah di akses oleh semua keluarga. (Tim)

Berita Terkait

Rahasia Kulit Cerah Alami dengan Air Beras dan Cara Membuatnya
Mengenal Fobia Gelap dan Cara Efektif Mengalahkannya
Waspada Efek Samping Daun Salam: Manfaat dan Bahayanya Bagi Tubuh
Cara Aman Membersihkan Kotoran Telinga Tanpa Dikorek
Cara Alami Atasi Radang Amandel Tanpa Obat Kimia
Daun Kelor dan Pengaruhnya pada Pertumbuhan Tinggi Badan
Biaya MRI 2026 dan Cara Lengkap Pakai BPJS Kesehatan
Cara Mudah Mencegah Sakit Gigi Sebelum Makin Parah
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 10:15 WIB

Rahasia Kulit Cerah Alami dengan Air Beras dan Cara Membuatnya

Sabtu, 26 September 2026 - 09:50 WIB

Mengenal Fobia Gelap dan Cara Efektif Mengalahkannya

Kamis, 24 September 2026 - 08:49 WIB

Waspada Efek Samping Daun Salam: Manfaat dan Bahayanya Bagi Tubuh

Selasa, 22 September 2026 - 08:19 WIB

Cara Aman Membersihkan Kotoran Telinga Tanpa Dikorek

Jumat, 18 September 2026 - 10:35 WIB

Cara Alami Atasi Radang Amandel Tanpa Obat Kimia

Berita Terbaru

Ilustrasi - Cara Mendapatkan Pet Aetheron di Steal An Egg Roblox. (ist)

Tech & Game

Cara Mudah Dapat Pet Aetheron Roblox Steal An Egg Terlengkap

Senin, 28 Sep 2026 - 16:12 WIB

Ilustrasi - Cara Unduh Foto Profil Instagram. (Foto: AI)

Tech & Game

Cara Mudah Unduh Foto Profil Instagram dalam Ukuran Penuh

Senin, 28 Sep 2026 - 12:16 WIB